Napak Tilas Selat Sunda

25 Dec 2012

Bandarlampung (25/12) Terakhir saya berlayar di Selat Sunda tahun 1988, waktu berikutnya beberapa kali berkunjung ke Bandarlampung melalui jalur udara. Sehingga setelah 24 tahun tidak merambah Pelabuhan Merak cukup dibuat kagum. Kebersihan dan suasananya mirip dengan terminal bandara udara.

046001143c157a2231c57a34df7d6858_napak-tilas-selat-sunda-020

Suasana sudah mulai berubah ketika saya memasuki area pelabuhan Merak, sangat jauh berbeda dengan kondisi tahun 1988 ketika terakhir saya mengunjungi. Apalagi dengan tahun 1977 ketika saya pertama kali menginjakkan kaki di Merak untuk menyeberang ke Pulau Sumatera dengan kapal PJKA menuju Srengsem, Panjang, Lampung. Tahun itulah, 1977, saya merasakan menginjak tanah di luar pulau Jawa.

Saya masih ingat betul, kondisi pelabuhan yang kumuh. Area jalan depan di pelabuhan jalanan berlobang dan becek serta berkubang lumpur penghujan. Terminal pelabuhan juga sangat tidak nyaman, calo dan preman leluasa sampai dekat pintu masuk kapal.

4c624b5feade6c6d401affc0675e9048_napak-tilas-selat-sunda-022

769ca2b988c591de9c463b0f832c939d_napak-tilas-selat-sunda-021

Berbeda dengan kondisi sekarang, begitu masuk ke arah penjualan tiket sudah bebas dari calo dan preman. Bahkan lantai mulus dan mengkilap menghantarkan langkah kaki menuju loket penjualan tiket penumpang. Di sisi kanan akan di dapati gerai Dunkin Donat yang bisa dijadikan bekal selama berlayar. Di sisi kiri terdapat gerai Indomart.

49351c61082b0234343f347345748b24_napak-tilas-selat-sunda-023

Beberapa langkah dari gerai Indomart akan sampai pada loket penjualan. Di kejauhan sudah terlihat tulisan tarif menyeberang klas Ekonomi, yaitu Rp. 11.500 untuk dewasa dan Rp. 7.000 untuk anak-anak. Walau hari ini hari libur panjang, tapi antrian tidak padat. Dulu kala itu, saya beli tiket tidak ditanya dan dicatat identitas diri, tapi sekarang wajib menyebutkan identitas diri yaitu nama dan umur. Hal tersebut untuk kepentingan manifes pelayaran.

c726df74c01bc74ae5d45042a0353c3f_napak-tilas-selat-sunda-025

Setelah membayar saya diberi kartu pas pelabuhan dan dua carik kertas semacam lembar boarding pass jika naik pesawat. Sebelum masuk, kartu pas pelabuhan harus ditempelkan pada alat scan sehingga saya baru bisa masuk.

6b5242df378ad883b56d579af7176f2f_napak-tilas-selat-sunda-027

Alhamdulillah, KM Windhu Karsa yang konon merupakan kapal ferri yang tercepat lajunya sudah siap, dan saya diarahkan untuk naik kapal itu. Setelah menyerahkan kartu pas pelabuhan saya kemudian naik ke kapal. Setelah sampai di atas kapal, suasana tidak jauh berbeda dengan jaman dulu. Terminal sudah dipercantik, tapi kapal masih saja tetap kapal tua.

160809010a5dbdc99ba8f15dcf5da018_napak-tilas-selat-sunda-042Saya memilih duduk di dek samping, daripada masuk ke dalam. Mudah-mudahan selama pelayaran tidak hujan sehingga bisa nyaman duduk di dek kapal. Akhirnya setelah membuang sauh, pelayaran Selat Sunda yang sudah 24 tahun tidak kunikmati kujalani juga.

57d8783bec66f73b32658d8366ace191_napak-tilas-selat-sunda-047

a73c9fa210778073d5effc9bff1c20f8_napak-tilas-selat-sunda-051

a44cfe112812e6b0be03d9227426948a_napak-tilas-selat-sunda-052

Ketika kapal pelan-pelan menjauh dari bibir pantai masih saja dijumpai pemandangan seperti dulu: anak-anak terjun dari atas kapal dan meminta penumpang melempar uang. Bedanya kalau dulu yang dilempar koin, sekarang minta uang kertas. Jangan-jangan yang kulihat dulu di tahun 1980-an yang menyelam ambil koin itu adalah bapak-bapak kalian??

Setelah 2,5 jam berlayar akhirnya tepian pulau Sumatera di kawasan Bakauheni mulai menampak di keremangan senja.

912ca30f45da9f8dd64cbfc182325336_napak-tilas-selat-sunda-082


TAGS selat sunda pelabuhan Merak kapal ferri pelayaran


-

Author

Follow Me